Kamis, 25 Oktober 2007

MEMPERBESAR PAYUDARA, MUNGKINKAH?

Jangan gampang terbuai rayuan iklan. Ukuran payudara wanita dewasa tak dapat diperbesar lagi dengan cara apa pun. Hanya bisa dilakukan lewat operasi dengan efek samping yang tidak kecil.

Coba cermati betapa marak iklan memperbesar payudara belakangan ini. Pihak produsen menjanjikan aneka produk yang mampu memperbesar payudara dalam waktu singkat. Entah dengan mengoleskan krim, mengenakan bra khusus, minum pil, sampai menggunakan peralatan elektronik yang dirancang khusus. Soal waktu juga tidak tanggung-tanggung. Mereka menjanjikan sesuatu yang fantastis. Hanya dalam waktu 30 hari, bukti konkret sudah bisa diperoleh. Yang benar saja!

Penggunaan berbagai cara untuk membesarkan buah dada, tandas Dr. Ferryal Loetan, ASC&T, MMR, Sp.RM., sebetulnya sia-sia belaka. Menurut konsultan seksologi ini, "Payudara wanita dewasa tidak mungkin dapat diperbesar lagi dengan cara apa pun. Sedangkan pertumbuhan yang paling pesat dialami oleh remaja putri yang baru mengalami pubertas. Makanya, payudara akan terlihat mengalami pembesaran dan pengencangan pada umur 10-18 tahun. Pertumbuhan ini akan terhenti saat si anak telah tumbuh jadi sosok wanita dewasa. Saat itulah ukuran payudara tidak bisa diutak-atik lagi. Sama halnya dengan perkembangan penis pada anak laki-laki.

Pasalnya, jelas Ferryal, payudara dibangun oleh kelenjar dan jaringan halus yang tidak bisa "dilatih" supaya membesar. Adapun kelenjar yang menyusun payudara adalah kelenjar susu. Kelenjar ini hanya akan aktif bekerja selama masa kehamilan guna mempersiapkan tubuh si ibu memproduksi ASI. Saat itulah kelenjar-kelenjar tersebut penuh berisi susu yang menyebabkan membesarnya ukuran payudara. Tak heran jika ukuran payudara wanita saat hamil lebih besar daripada biasanya.

Sementara jaringan yang paling banyak menyusun struktur payudara adalah jaringan lemak dan jaringan ikat. Jaringan-jaringan halus inilah yang menopang payudara tadi. Berbeda dengan jaringan otot yang banyak terdapat pada kaki dan tangan sebagai anggota gerak tubuh, jaringan ikat dan lemak sama sekali tidak bisa dilatih supaya membesar. Konkretnya, jika otot lengan bisa dilatih dengan cara angkat beban supaya membesar, maka otot-otot payudara tidak bisa dilatih dengan cara yang sama supaya menjadi besar.

Tak heran jika payudara sudah kendur akan tetap kendur alias sulit sekali untuk mengencangkannya. Kendurnya payudara ini menunjukkan jaringan ikat dan jaringan lemak yang menopangnya sudah tidak bisa menyangga beban payudara.

FAKTOR PENENTU

Secara umum, jelas Ferryal, besar kecilnya ukuran payudara ditentukan oleh beberapa faktor. Di antaranya faktor ras dimana memang ada ras/suku tertentu yang kaum perempuannya dikenal memiliki buah dada yang cukup besar. Wanita Asia umumnya memiliki payudara yang relatif kecil. Sebaliknya, ras Kaukasia dikenal memiliki payudara cukup besar. Namun seiring dengan aspek globalisasi dengan banyaknya perkawinan antarras, faktor ras agaknya sudah tidak lagi menentukan besar kecilnya buah dada. Buktinya, tidak sedikit wanita Asia yang memiliki buah dada besar.

Faktor penentu berikut adalah faktor genetik. Artinya, ukuran payudara seorang ibu akan menurun pada anak perempuannya. Dengan demikian, dari seorang ibu yang memiliki buah dada besar, kemungkinan besar anak-anak perempuannya pun memiliki ukuran payudara yang relatif besar pula.

Kendati begitu, faktor lingkungan dan pelatihan juga ikut berpengaruh. Seorang atlet renang umumnya memiliki payudara relatif besar karena bidang dadanya pasti lebih lebar mengingat sering tertarik oleh gerakan-gerakannya saat berenang. Sebaliknya, penderita asma biasanya memiliki buah dada lebih kecil dibanding ukuran asli/semestinya. Kondisi ini merupakan akibat tak langsung dari bentuk toraks/dadanya yang relatif kecil. Selain oleh kebiasaannya menarik napas secara dalam.

OPERASI SEBAGAI SOLUSI?

Selain meragukan efektivitasnya, Ferryal juga mengkhawatirkan dampak negatif dari berbagai upaya pembesaran payudara yang marak diiklankan di berbagai media. Salah satu yang paling dikhawatirkannya adalah cara vakum. Metode ini mengklaim bisa membesarkan payudara dengan cara menyedot jaringan-jaringan payudara menggunakan alat khusus. "Untuk jangka pendek, upaya ini mungkin akan berhasil karena jaringan akan terpompa dan payudara ikut membesar," ujar Ferryal memberi komentar. Sedangkan untuk jangka panjang, ia justru meragukannya. "Bagaimana mungkin? Sebabnya, begitu vakum dilepas, seluruh jaringan yang membentuk payudara akan kembali ke ukuran aslinya. Payudara pun akan kembali mengempis."

Demikian juga dengan berbagai krim yang banyak ditawarkan di pasaran. Ferryal mengingatkan konsumen untuk benar-benar mempertanyakan efeknya. "Apa iya bisa memperbesar ukuran payudara? Padahal krim-krim tersebut hanya bekerja pada bagian luar payudara dan tidak bisa menembus jaringan payudara. Sedangkan sebatas mengencangkan payudara sih mungkin saja," tuturnya.

Ferryal tak memungkiri bahwa operasi merupakan salah satu upaya pembesaran payudara yang "aman". Menyuntikkan silikon ke payudara sudah banyak ditinggalkan orang karena risikonya yang sangat besar. Pasalnya, silikon tersebut sewaktu-waktu bisa pecah lalu merembes masuk ke pembuluh darah yang kemudian bisa menyebabkan keracunan pada tubuh. Keracunan ini bisa menghancurkan sel-sel tubuh yang dalam tahap selanjutnya dapat memicu terjadinya kanker. Itulah mengapa Ferryal kembali mengingatkan konsumen agar mencurigai lembaga kecantikan ataupun oknum tertentu yang menawarkan operasi silikon.

Operasi yang dianggap cukup "aman" untuk memperbesar payudara adalah operasi saline. Lewat operasi, model/bentuk dan ukuran payudara bisa didesain sedemikian rupa tergantung selera yang bersangkutan. Yang patut diperhatikan, orang yang melakukan operasi haruslah orang yang benar-benar ahli dalam bidang operasi plastik karena tidak setiap orang bisa sembarangan melakukannya.

Caranya, serupa dengan silikon, cairan saline dimasukkan ke dalam bungkus tertentu lalu dipasang di bagian payudara. Meski dianggap lebih "aman" ketimbang silikon, sampai sejauh ini penelitian lanjut mengenai efek samping cairan ini belum ada. Jadi, kalau mau menempuh cara ini pun ada baiknya pikirkan kembali dampak merugikan yang mungkin timbul.

MESTI RAJIN MERAWAT

Meski pembesaran payudara bisa dilakukan lewat operasi, tapi Ferryal menegaskan setiap pasangan suami-istri hendaknya mensyukuri ukuran payudara yang dimiliki sang istri. Karena yang terpenting adalah bagaimana merawat dan menjaga payudara tersebut agar tetap kencang.

Selain itu, ukuran payudara juga tidak selalu identik dengan daya tarik seksual pria. Bicara soal ukuran, toh selera laki-laki dalam hal ini juga tidak bisa disamaratakan. Ada laki-laki yang suka wanita berpayudara besar, tapi tidak sedikit pula yang menyukai wanita berpayudara kecil. Artinya, "Semua tergantung selera masing-masing." Jadi, hanya jika ukuran kecilnya payudara istri sudah jadi masalah urgent dalam keluarga, operasi saline bisa jadi alternatif.

Ferryal menganjurkan pula agar setiap wanita hendaknya merawat payudaranya sebaik mungkin. Sejak usia pubertas, orang tua wajib mengajarkan pada anaknya bagaimana menjaga kebersihan dan merawat organ-organ seksualnya. Termasuk penjelasan kepada anak perempuan bagaimana caranya menaruh kepedulian besar pada payudara. Saat payudara mulai tumbuh dibutuhkan penyangga yang tepat untuk menopangnya. Pemakaian bra yang tepat dan cocok akan membuat payudara tumbuh semestinya dan membantunya agar tidak cepat kendur.

Saeful Imam. Ilustrator: Pugoeh

sumber:

http://bima.ipb.ac.id/~anita/memperbesar_payudara_mungkinkah.htm

1 komentar:

Wahyu Andhika Putra mengatakan...

keren. . . . by:http://kesehatanmanusiapenting.blogspot.com